Berpikir Kritis Matematis: Kemampuan atau Proses dalam Pembelajaran Matematika❓
Berpikir Kritis Matematis: Kemampuan atau Proses dalam Pembelajaran Matematika?
Dalam dunia pendidikan matematika, istilah berpikir kritis matematis semakin sering digunakan dalam penelitian, tesis, maupun praktik pembelajaran di kelas. Namun masih banyak guru dan mahasiswa pendidikan matematika yang bertanya:
Apakah berpikir kritis matematis itu merupakan sebuah kemampuan, atau hanya sebuah proses berpikir saja?
Pertanyaan ini penting, terutama bagi Anda yang sedang menyusun penelitian tentang kemampuan berpikir kritis matematis, mengembangkan instrumen tes, atau merancang pembelajaran berbasis HOTS.
Apa Itu Berpikir Kritis Matematis?
Secara umum, berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara reflektif, logis, dan rasional dalam mengambil keputusan. Konsep ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Robert H. Ennis yang mendefinisikan berpikir kritis sebagai reasonable and reflective thinking focused on deciding what to believe or do.
Namun dalam konteks matematika, berpikir kritis memiliki karakteristik khusus. Ia tidak sekadar memahami rumus atau prosedur, tetapi melibatkan kemampuan untuk:
- Menginterpretasi masalah matematis
- Menganalisis hubungan antar konsep
- Mengevaluasi strategi penyelesaian
- Menarik kesimpulan logis
- Memeriksa kembali kebenaran solusi
Inilah yang kemudian disebut sebagai berpikir kritis dalam pembelajaran matematika.
Apakah Berpikir Kritis Matematis Termasuk Kemampuan?
Dalam literatur pendidikan matematika, istilah yang paling umum digunakan adalah:
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Mengapa disebut kemampuan?
- Dapat diukur melalui indikator tertentu
- Dapat dikembangkan melalui pembelajaran
- Memiliki level (rendah, sedang, tinggi)
- Dapat dibandingkan antar individu
Dalam penelitian, indikator kemampuan berpikir kritis matematis biasanya mencakup:
- Interpretasi
- Analisis
- Evaluasi
- Inferensi
- Eksplanasi
Artinya, secara konseptual dan operasional, berpikir kritis matematis adalah sebuah kemampuan kognitif tingkat tinggi (HOTS) yang dapat dilatih dan ditingkatkan melalui strategi pembelajaran yang tepat.
Berpikir Kritis Matematis sebagai Proses Berpikir
Di sisi lain, jika kita melihat dari sudut pandang aktivitas mental, berpikir kritis matematis juga merupakan sebuah proses.
Saat siswa menyelesaikan soal matematika, mereka melalui tahapan seperti:
- Memahami informasi yang diberikan
- Mengidentifikasi apa yang ditanyakan
- Memilih konsep atau rumus yang relevan
- Melakukan perhitungan atau penalaran
- Mengevaluasi hasil yang diperoleh
Tahapan ini menunjukkan bahwa berpikir kritis matematis terjadi melalui proses berpikir yang sistematis dan bertahap.
Dengan demikian:
- Sebagai hasil yang dimiliki siswa → disebut kemampuan
- Sebagai aktivitas mental saat menyelesaikan masalah → disebut proses
Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Perbedaan Antara Kemampuan dan Proses dalam Konteks Matematis
Jika Anda sedang menyusun proposal atau tesis, maka istilah yang tepat digunakan adalah:
Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
Karena penelitian membutuhkan sesuatu yang:
- Dapat diukur
- Dapat dianalisis secara statistik
- Memiliki indikator operasional
Sementara istilah “proses berpikir kritis matematis” lebih tepat digunakan saat menjelaskan mekanisme kognitif dalam kajian teori.
Implikasi bagi Guru Matematika
Jika berpikir kritis matematis adalah kemampuan yang berkembang melalui proses, maka strategi pembelajaran harus dirancang untuk:
- Memberikan soal non-rutin
- Mendorong diskusi argumentatif
- Mengembangkan pembelajaran berbasis masalah
- Memberi ruang refleksi
- Tidak hanya fokus pada prosedur mekanistik
Pendekatan seperti Problem Based Learning (PBL) sangat relevan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Contoh Penerapan pada Materi Statistika
Misalnya pada materi statistika:
Alih-alih hanya meminta siswa menghitung mean atau median, guru dapat menanyakan:
- Mengapa mean tidak selalu mewakili data?
- Kapan median lebih tepat digunakan?
- Apakah data ini memiliki pencilan?
- Bagaimana pengaruh pencilan terhadap rata-rata?
Pertanyaan semacam ini mendorong siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam matematika, bukan sekadar menghitung.
Kesimpulan
Berpikir kritis matematis adalah kemampuan kognitif tingkat tinggi yang berkembang melalui proses berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah matematika.
Jadi, ia bukan hanya kemampuan dan bukan hanya proses, melainkan kemampuan yang dibentuk melalui proses.
Bagi guru dan peneliti pendidikan matematika, memahami perbedaan ini penting agar tidak keliru dalam penggunaan istilah akademik, terutama dalam penulisan proposal, tesis, maupun artikel ilmiah.
FAQ Seputar Berpikir Kritis Matematis
Apa perbedaan berpikir kritis dan berpikir kritis matematis?
Berpikir kritis bersifat umum, sedangkan berpikir kritis matematis lebih spesifik pada konteks analisis dan evaluasi dalam penyelesaian masalah matematika.
Apakah kemampuan berpikir kritis matematis bisa diukur?
Ya. Kemampuan ini dapat diukur melalui indikator seperti interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan eksplanasi.
Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa?
Melalui soal non-rutin, diskusi reflektif, pembelajaran berbasis masalah, serta penggunaan media pembelajaran yang mendorong argumentasi matematis.
Salam edukasi,
Pak Ipung

Post a Comment